Review Penebusan Karya Misha F. Ruli
04:28Penebusan Karya Misha F. Ruli
Kira-kira, apa yang salah hingga saya harus menyaksikanmu berbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan seperti ini?
- Judul: Penebusan
- Penulis: Misha F. Ruli
- Penerbit: Penerbit Haru
- Tahun terbit: Cetakan pertama, Maret 2024
- Halaman: 140 halaman ; 19 cm
- ISBN: 978-623-5467-23-8
Seorang mahasiswi melakukan percobaan bunuh diri. Kekasihnya mencoba mencari tahu apa alasan gadis itu. Namun, kenyataannya lebih mengerikan daripada yang dia duga....
Akhirnya dapet juga salah satu buku yang aku pengen banget baca, temennya Pasien karya Naomi Midori nih, novel Penebusan karya Misha F. Ruli. Novel iyamisu Indonesia juga yang terbit dibawah naungan Penerbit Haru. Buku ini aku dapet free sample dari Persada Book Id. Awalnya ngajuin sampel lain, tapi dikasih Penebusan. Ya seneng banget lah aku. Hehehe. Makasih Persada Book Id (Haru Semesta) atas kesempatan dan kepercayaannya. Semoga makin jaya. Amin.
Sama kayak Pasien, novel Penebusan juga tipis, tapiii buku setipis dan seringan ini isinya berat banget. Idenya brilian dan berani karena udah ngangkat hal yang belakangan banyak terjadi dan dibahas di sosial media yaitu tentang bunuh diri dan pelecehan seksual di lingkungan pendidikan. Bahkan ada satu adegan yang pas aku baca tuh keinget sama peristiwa di dunia nyata tentang guru yang melecehkan muridnya. Nyesek dan sakit banget pas baca.
Setelah kelar baca, kesimpulanku adalah semua karakter dalam novel ini bajingan. Aku percaya setiap individu tuh bajingan dalam versi masing-masing, nah di novel Penebusan ini digambarkan dengan jelas dan rinci. Orang yang keliatan baik, justru iblis paling berbahaya. Sakit banget asli bacanya, semua karakter nggak ada yang bener walau tampak sempurna.
Nggak hanya tentang bunuh diri dan pelecehan seksual, tapi tentang kenyataan semu tentang sebuah hubungan pertemanan. Apa yang terlihat akrab, belum tentu nyatanya begitu. Adanya persaingan dalam satu sirkel yang bahkan bisa membuat manusia gelap mata hingga tega menghancurkan temannya sendiri.
Bukan salahku Widy mencoba bunuh diri. Dia sendiri yang bermain api. Dia yang mengundang orang-orang untuk membenci dirinya. Kenapa tiba-tiba aku yang harus bertanggung jawab kalau dia pengin mati? Itu keputusan Widy sendiri. Aku cuma melakukan apa yang orang waras lakukan; menghukum orang yang bersalah.
Walau di kenyataan banyak orang yang, maaf, tampilan fisiknya minus lalu kelakuannya juga minus, pas baca di dalam novel ini juga ada karakter demikian, ikutan emosi. Istilahnya, kalau fisik minus, mbokya kelakuan jangan minus juga. Ini segala apa nyalahin orang, kayak dirinya nggak ada salah. Suer punya temen kayak gini mending dibuang ke laut aja jadi pakan hiu.
Ngerinya rasa penasaran gadis polos yang dipertemukan sama predator seksual. Baca part ini merinding, sambil baca dalam hati berteriak, "Dek, lari! Plis! Jangan percaya sama pamanmu!" Tapi emang kebanyakan predator seks itu tutur bahasanya lembut dan kalem, jadi korban dengan mudah dimanipulasi dan menuruti apa yang diminta. Setelah sadar, semua udah terlembat.
Napasku berat. Dadaku sesak. Aku tak lagi mampu membendung gejolak emosiku setelah menyadari bahwa selama ini aku sekadar pelampiasan nafsu. Marah, kecewa, takut, sedih, benci, semua bercampur. Rasanya ingin kucekik leherku sendiri.
Setiap orang pasti akan melindungi dirinya sendiri dengan cara apa pun termasuk mengorbankan orang lain. Sumpah ini gila! Demi melindungi rahasianya sendiri, tega ngorbanin temennya buat jadi the next korban predator seksual. Jahat banget asli. Ya, walau karakter jahat ini terbentuk dari jiwa murni yang dijahatin, tapi tetep aja tindakannya jahat banget sekali pakek banget. Ini namanya penjahat melahirkan penjahat baru. Sakit banget. Hiks!
Satu nyawa kemungkinan bisa terselamatkan, satu keluarga kemungkinan masih bisa mencoba untuk tetap utuh andai satu mulut berani bersaksi demi membongkar kejahatan penjahat kelamin yang berlindung dibalik gelar guru. Tapi, baca bagian ini juga mikir, nggak bisa nyalahin tindakan saksi karena di usianya dan melihat kondisi keluarganya, ia jelas takut untuk 'membuat masalah' jika ia bertindak, karenanya ia memilih bungkam. Walau tindakan bungkamnya ini nggak dibenarkan juga.
Aku sadar diriku tidak pantas dimaafkan. Malahan, aku tidak punya hak mengucap kata maaf. Aku perempuan jahat. Orang yang bertanggung jawab atas kematian adikmu adalah aku. Aku mengabaikannya, sama halnya dengan membiarkannya mati.
Karma dan penyesalan. Suatu hari hanya menjadi pengamat, hari berikutnya berganti jadi pelaku atau korban. Dunia memang berputar sekejam itu bagi manusia yang ada di dalamnya. Kesempatan untuk memberi pengadilan bagi para pelaku yang kemudian dianggap benar karena mereka nggak bisa dilumpuhkan dengan hukum.
Namun, sekarang berbeda... meski saya benci sensasi yang tersisa di tangan saya, saya tak lagi gemetar. Rada takut itu tak lagi muncul. Justru, saya lega.
Semua karakter dan adegan-adegan disajikan dalam novel Penebusan terasa nyata, beneran hidup seolah ada di sekitarku dan aku melihat, turut merasakan apa yang mereka alami. Saat flashback ke kehidupan yang dijalani korban kekerasan seksual, dada sesek banget dan sekuat tenaga menahan air mata. Rasa jijik pada diri sendiri pasca kejadian, benci pada pelaku dan lingkungan yang meragukan. Hilang arah dan nggak punya rumah hingga akhirnya memutuskan untuk pergi. Sakit banget, asli.
Awal baca agak nggak nyaman karena disampaikan dengan bahasa yang baku, tapi setelah baca bab berikutnya, oh ternyata itu jadi ciri khas salah satu karakter. Kembali menengok ke dunia nyata, iya emang ada orang yang tutur katanya seperti itu.
Karena nggak sedikit kasus pelecehan seksual di ruang pendidikan memposisikan pelaku jadi kebal hukum, aku setuju dengan cara pengadilan yang disajikan dalam novel ini. Nggak ada hubungan yang setimpal kecuali mati. Predator seksual tuh misal dipenjara, keluar bisa lakuin kejahatan yang sama lagi. Makanya udah paling bener dibikin mampus aja.
Walau tipis dan ringan yang kelar baca hanya dengan sekali duduk, novel Penebusan menyisakan kesan yang dalam. Korban pelecehan seksual seringnya harus menanggung sendiri luka, ketika bicara, nggak jarang mereka masih disalahkan dan pelaku kebal hukum. Harus banget baca novel keren ini! Ini link buat yang mau beli di akun Shopee Haru Semesta. Kalau mau dapet gratis ongkir dan diskon, bisa beli dari Shopee Video ini.
Kamu bilang kamu ingin melakukan sesuatu demi saya? Kalau begitu... hiduplah! Jalani hidupmu. Bukan demi saya. Demi ibumu. Demi dirimu. Dengan begitu, semua yang telah saya lakukan ini akan memiliki arti.


0 komentar