Review Novel Fallen Petals by Pandu Firmansyah
19:59Fallen Petals - Pandu Firmansyah
"Seperti kelopak bunga yang berguguran keindahannya akan tetap hidup dalam kenangan meski tak lagi terikat oleh ruang dan waktu."
- Judul: Fallen Petals
- Penulis: Pandu Firmansyah
- Penerbit: Penerbit Haru
- Tahun terbit: Cetakan pertama, Desember 2025
- Halaman: 224 hal ; 19 cm
- ISBN: 978-623-5467-41-2
Di malam yang dipenuhi salju, Opsir Thomas memenuhi panggilan dari salah satu warga, wanita tua berkebangsaan Italia yang mengaku melihat anjing hutan membawa kepala manusia di mulutnya.
Awalnya Opsir Thomas merasa hal itu hanya racauan wanita tua dan segera memeriksa lokasi agar tugasnya lekas selesai. Rasa mual menghantam Opsir Thomas ketika ia melihat kepala manusia, seorang pria. Wajahnya mengerikan karena tercabik-cabik anjing liar. Hidung sudah hancur, kulit wajah terkelupas. Pada wajah itu yang tersisa hanya sepasang mata yang terbuka lebar, seolah sebelum kematiannya ia menyaksikan hal yang mengerikan.
Anak buah Opsir Thomas melaporkan penemuan mayat tanpa kepala sejauh 1,5 km dari lokasi penemuan kepala. Kondisi mayat sangat kacau dan mengenaskan. Anak buahnya menemukan sebuah rumah tak jauh dari lokasi mayat tanpa kepala. Di dalam rumah tak kalah mengerikan, ditemukan dua mayat lainnya. Namun panggilan terputus saat anak buah menyampaikan detail penemuan mayat dalam rumah. Kemudian terdengar lolongan bersahutan dari dalam hutan yang membuat tubuh Opsir Thomas menegang karena menyadari ada yang tak beres dan aneh pada kasus yang baru ia tangani.
Fallen Petals tuh novel iyamisu lokal karya Kak Pandu Firmansyah. Sebelumnya udah baca iyamisu lokal terbitan Haru juga yang judulnya Pasien karya Kak Naomi Midori. Trus kok terbit lagi iyamisu lokal, judulnya Fallen Petals. Penasaran bakalan dikasih kejutan apa lagi sama penulis Haru dalam karya iyamisu-nya yang berjudul Fallen Petals. Seingatku pas vote cover aku ikutan milih, lupa-lupa inget tapi. Hehehe. Cover-nya cakep. Ada gambar bunga-bunga, trus ada gambar perempuan yang sedang duduk dengan rambut terurai. Entah sejak awal menerima buku ini, aku merasa melihat wajah monster tersembunyi di antara helaian rambut yang terurai.
Waktu baca blurb-nya di Instagram tuh udah dibikin bertanya-tanya, apakah cerita kali ini tentang pembunuhan berantai? Karena ada kepala laki-laki dimakan anjing, apakah pembunuhnya gadis pada sampul? Lalu, kok ada kebenaran yang disampaikan sama editor? Emang ini kisah seorang penulis? Pas bukunya dateng, baca ulang blurb-nya, ternyata bakalan ada empat 'kebenaran' yang disampaikan oleh empat orang yaitu istri, suami, sahabat, dan editor. Kebenaran kayak mana? Pengakuan ke polisi?
Karena penasaran, akhirnya mulai baca sambil nunggu waktu berbuka. Waktu buka halaman pertama langsung disajikan prolog. Novel ini unik, biasanya setelah sampul kan informasi buku dulu tuh macem nama penulis, cetakan terbit, editor, layout, ISBN dan perincian lainnya. Fallen Petals langsung menyajikan prolog yang nendang. Badai salju, laporan wanita tua yang melihat anjing memakan kepala manusia dan petugas polisi yang lagi kalut yang memenuhi panggilan. Awalnya dikira si wanita tua halu, tapi pas liat kondisi 'kepala' yang dimaksud, opsir yang bertugas langsung dibuat mual. Aku pun yang mulai baca dibuat agak nggak nyaman, tapi penasaran. Tapi, demi kebaikan diri sendiri, stop dulu lah. Nunggu habis buka puasa aja. Takutnya kalau dilanjut makin brutal, akunya malah nggak selera makan. Jadi, tunda sebentar walau rasa penasaran udah menggelitik.
Malemnya, memilih Fallen Petals buat nemenin ritual sebelum tidur yaitu membaca buku. Bukannya jadi ngantuk, malah jadi terjaga. Ceritanya mengalir jadi asik banget baca sampai ngantuk ilang dan tahu-tahu udah kelar aja. Rekor buatku juga ini, kaget bisa ngelarin buku yang jumlahnya 200 halaman lebih dalam waktu dua jam. Biasanya satu sampai dua hari baru kelar, ini dua jam kelar. Saking serunya tahu-tahu dah kelar. Pas kelar baca tuh ada rasa puas, tapi rasa hampa juga kayak ada sesuatu yang selesai tapi bikin kehilangan. Kalau di konser tuh butuh encore. Hehehe. Trus yang berputar-putar di kepala, Gimana perasaan wanita tua yang nemuin kepala dimakan anjing setelah tahu itu kepala anaknya. Auto nyesek. Mana kesan yang aku tangkep ibunya sayang banget ke anaknya. Heuheuheu.
Seperti yang ditulis pada blurb, cerita dibagi dalam empat bagian yang masing-masing disampaikan dari sudut pandang yang berbeda. Bagian awal tuh ada jurnal yang ditulis oleh Camellia. Wanita Indonesia yang menikah dengan pria asing lalu menjadi ibu rumah tangga penuh yang tugasnya mengurus rumah, suami, putri kecilnya yang bernama Lily dan anjing tua peliharaan suaminya yang bernama Rottie. Suami Camellia seorang penulis yang sedang fokus mengejar karir demi meraih kembali masa keemasannya. Karenanya, Camellia selalu memberi ruang dan membujuk Lily untuk tak mengganggu ayahnya.
Camellia sedang berjuang melawan depresi usai peristiwa tragis yang menimpa dirinya dan putri semata wayangnya, Lily. Camellia menjadi pasien tetap rumah sakit di poli psikiatri dan menulis jurnal adalah saran psikiater yang menanganinya. Makanya di awal tuh tulisannya terkesan canggung karena Camellia baru aja mulai nulis jurnal dan dia bingung mau mulainya kayak apa. Camellia mulai menceritakan kegiatannya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga yang sesekali harus pergi ke rumah sakit untuk sesi konseling. Demi menyembuhkan dirinya, Camellia juga rajin beribadah tiap minggu. Pernah sekali menceritakan tentang ceramah hari itu pada putri kecilnya, Lily.
Perlahan Camellia mulai membuka diri dalam jurnal yang ia tulis. Menceritakan bagaimana ia bertemu suaminya, Pilar yang berprofesi sebagai penulis yang pernah mendapat berbagai penghargaan. Dari yang ia tulis, aku nangkepnya Camellia ini kecintaan banget ke suaminya. Bahkan ia selalu memberi ruang agar suaminya bisa bekerja dengan nyaman di ruang kerjanya. Hingga tiba pada bagian Camellia mulai menceritakan putrinya yang berakhir cacat dan hanya bisa duduk di kursi roda serta kemalangan yang ia alami.
Jujur pas masuk bagian ini perasaan udah mulai dibuat campur aduk. Anaknya jadi cacat, Camellia diperkosa sahabat baik suaminya hingga hamil. Wajah Camellia juga hancur bahkan telinganya hilang karena mengalami kecelakaan bersama Lily. Di tengah perjuangan melawan depresi, Camellia justru hamil yang ia yakini adalah anak dari si pemerkosa. Mati-matian Camellia menolak kehadiran bayi itu hingga akhirnya memutuskan untuk aborsi secara legal yang kemudian terhalang karena infeksi yang dideritanya. Infeksi karena Camellia berusaha mengeluarkan bayi yang menumpang hidup di rahimnya dengan merogohnya dengan bantuan gantungan baju. Ngilu banget bacanya! (T_T)
"Saya... menghancurkan bukan hanya hidup seseorang, tetapi saya menghancurkan satu keluarga."
Bagian kedua disampaikan dari sudut pandang Joerg, sang sahabat. Sama kayak bagian pertama, bagian kedua disajikan dari sudut pandang orang pertama yaitu sudut pandang Joerg. Joerg sedang melakukan pengakuan dosa di gereja. Di sini benang merah cerita mulai diperlihatkan. Hubungan Joerg dan Camellia ini apa. Walau nggak terlalu banyak, tapi penjabaran Joerg memberi petunjuk dan bikin makin bertanya-tanya, ini yang bener gimana? Apa Camellia cuman halu karena dia sakit? Dan hal itu diperburuk karena kecelakaan yang dialaminya bersama Lily?
"Pada akhirnya tidak akan ada yang abadi."
Bagian ketiga disampaikan dari sudut pandang Pilar, suami Camellia, ayah Lily. Walau cerita dari versinya Pilar yang berprofesi sebagai penulis, dituliskan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Asli baca bagian tiga ini sempet dibuat kesel sama Pilar karena kenyataan pria yang dalam jurnal Camellia digambarkan sempurna--di mata Camellia--itu ternyata kelakuannya bikin ngelus dada. Tapi bersamaan dengan itu, makin dibaca makin memahami kenapa Pilar jadi menjaga jarak dan bersikap begitu pada Camellia. Jengkel, tapi juga kasihan. Pilar dan Camellia sama-sama berjuang untuk berdamai dengan nasib buruk yang menimpa mereka.
Kepribadian Pilar yang... duh kenapa jadi lupa istilahnya apa ya? Pokoknya dia itu kalau maunya nulis A ya udah A, nggak mau diubah-ubah buat ngikutin alur pasar. Apa sih namanya, beneran lupa. Astaga! Sama sekali nggak inget. Jadi sedikit memahaminya karena tulisan itu ibarat anak yang dilahirkan dengan penuh perjuangan. Tapi, di sisi lain harus menuruti kemauan penerbit yang mengikuti kemauan pasar. Konflik yang sering terjadi antara penulis dan penerbit.
"Orang mati ternyata bisa bicara dari kuburnya."
Bagian keempat diceritakan versi Mattia, sang editor baru yang membantu Pilar untuk menyelesaikan naskah terbarunya yang ditulis menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sama seperti bagian Joerg, bagian Mattia juga nggak begitu banyak tapi di situlah gongnya. Plot twist-nya GILA BANGET! Walau penulis udah membagikan banyak petunjuk, rasanya masih nggak percaya kalau cerita sebenernya kayak gitu. Asli jahat banget. Brengsek banget! Dan entah merasa, itu keadilan yang pantas dia dapat, ganjaran yang setimpal.
Novel ini menggambarkan betapa kejamnya fitnah bisa menghancurkan hidup seseorang. Rasa bersalah yang terus menggerogoti. Villain sebenarnya justru terlihat seperti malaikat dan malaikat tampak bagai iblis. Betapa mengerikannya sifat manusia yang bisa lebih buas dari hewan. Pernah nonton salah satu video yang ngasih spoiler adegan istri membelah perut dengan kapak lalu mengeluarkan bayi dalam kandungannya. Entah adegan ini ketika baca justru terasa biasa. Justru yang bikin tercengang itu adegan menyetubuhi jenazah. GILA BANGET! ASLI BIKIN MUAL. Kok bisa melakukan hal itu? Sampai aku baca ulang, ini apa aku yang salah nangkep atau emang adegannya bener demikian? Karakter pada gila semua, nggak ada yang waras! (TT_TT)
Setelah baca jadi merenung, emang semengerikan itu psikologis manusia. Gimana sebuah peristiwa bisa mengubah kepribadian seseorang, tentang depresi, putus asa, rasa bersalah, bunuh diri, balas dendam. Komplit! Plot twist-nya berlapis-lapis. Menurutku karakter paling malang ya Camellia. Korban sebenarnya dari kebiadaban para pria. Mohon maaf semisal ini dianggap egois atau rasa simpati karena sesama perempuan. Situasinya emang rumit, karena Pilar juga yang memberi peluang orang lain buat masuk ke dalam keluarganya padahal sebelumnya dia udah menutup rapat privasinya sejak terkenal. Sahabatnya juga udah membuat batasan, menghormati Pilar dan keluarganya. Emang iblis berwujud manusia yang mengerikan menyusup dan membuat kekacauan. Aku nangkepnya juga serba salah jadi perempuan--Camellia--karena keramahannya disalahaartikan. Betapa mengerikannya rasa bersalah yang bisa mengikis rasa percaya diri bahkan merenggut nyawa.
Intinya novel ini KEREN tapi juga GILA. Setelah baca sampai akhir, jadi paham kenapa ada bunga di sampul yang terkesan layu bahkan seolah kering, mati. Sedetail itu ngasih petunjuknya. Bunga lili dan bunga kamelia. Oiya, ada selipan tentang filosofi dua bunga ini juga. Aku yang suka bunga jadi seneng banget pas baca.
Bahasa penulisan juga rapi dan mengalir. Dan dalam keseluruhan naskah cuman nemu satu typo aja. Trus dalemnya juga ada beberapa ilustrasi. Jadi ngebayangin semisal buku ini terbit dalam versi hard cover pasti lebih cakep.
Bintang 5 dari aku karena emang sekeren itu novelnya. Makasih Kak Pandu Firmansyah karena udah bikin cerita yang keren sekaligus gila. Hehehe. Paket lengkap dah. Pecinta iyamisu wajib baca novel ini. Dijamin nggak akan kecewa.
Yang mau beli bisa klik link ini ya. Oiya, aku juga bikin video ulasan yang bisa ditonton di sini. Yang mau beli via Shopee Video, bisa nih biar dapet diskon dan gratis ongkir. Sekian sharing perasaan setelah baca novel Fallen Petals. Mohon maaf jika ada salah kata. Gomawo matur tengkyu.



0 komentar