Review Novel Korea Yujin, Yujin Karya Lee Geum-yi

04:50

Yujin, Yujin Karya Lee Geum-yi

"Untuk Yujin dan Yujin yang lain, kejadian yang menimpamu bukanlah kesalahanmu. Apa pun yang terjadi padamu, kau adalah orang yang paling berharga dan indah di dunia ini. Jangan lupakan fakta apa pun situasinya."


- Judul: Yujin, Yujin

- Penulis: Lee Geum-yi

- Penerbit: Penerbit Haru

- Tahun terbit: Cetakan pertama, Juni 2025

- Halaman: 274 halaman ; 19 cm

- ISBN: 978-623-5467-36-8


Dua Gadis. Satu Nama. Satu Rahasia.

Yujin Besar dan Yujin Kecil sangat berbeda--yang satu siswa teladan, yang lain serampangan. Namun, di balik kehidupan mereka yang bertolak belakang, ada trauma masa lalu selalu menghantui.

Dipertemukan kembali saat SMP setelah bertahun-tahun berpisah, mereka harus menghadapi trauma dan luka lama yang membentuk mereka. Dari bayang-bayang kekerasan masa kecil hingga rumitnya kehidupan remaja, perjalanan mereka adalah kisah tentang rasa sakit, ketakutan, dan harapan bahwa luka terdalam pun masih bisa sembuh.



Waktu novel Korea Yujin, Yujin ini akan rilis, aku sempat mengajukan diri untuk ikut program sampel gratis, tapi sayang nggak lolos. Tapi, kalau udah jodoh pasti tetep ada jalan. Ndilalah kersane Gusti Allah lolos untuk ikut K-Book Content Camp tapi yang daring. Sebenernya di Malang ada kegiatan luring K-Book Content Camp yang lokasinya tuh lebih mudah dijangkau dari rumahku yang jauh di ndeso. Tapi, aku sengaja nggak daftar karena masih dalam proses pengurangan dosis obat psikiater yang bikin kondisiku agak labil. Padahal salah satu buku yang dibahas tuh I Want to Die but Want to Eat Tteokbokki karya mendiang Baek Se Hee. Buku yang udah membuatku berani ambil langkah buat minta bantuan psikiater saat aku udah nggak bisa mengatasi labilnya diriku sendiri. Ulasan buku I Want to Die but Want to Eat Tteokbokki bisa dibaca di sini. Untuk buku I Want to Die but Want to Eat Tteokbokki 2 bisa dibaca di sini.

Selain dapat ilmu tentang ngonten, dapet buku juga nih sebagai reward. Karena Yujin, Yujin ada dalam daftar, langsung milih novel Korea ini. Karena penasaran banget sama isinya kayak mana dan entah kenapa aku tuh punya pikiran, nebak gitu lah, kalau buku ini mengisahkan tentang gadis dewasa bernama Yujin yang mungkin mengalami perjalanan waktu lalu ketemu sama dirinya pas waktu kecil. Itu kenapa ada panggilan Yujin Besar dan Yujin Kecil. Yujin Besar panggilan untuk Yujin dewasa, sedang Yujin Kecil panggilan untuk Yujin remaja karena ada clue mereka ketemu pas SMP. Entah dari mana munculnya dugaan itu. Sotoy banget, kan? Heuheuheu.

Setelah baca, ternyata kesotoyanku salah besar. Tidak ada perjalanan waktu, tidak ada pertemuan antara gadis dewasa dan dirinya versi remaja. Dalam novel ini ternyata beneran ada dua remaja putri bernama Lee Yujin. Udah namanya sama, sekelas pula. Untuk membedakan, dibuatlah nama panggilan Yujin Besar dan Yujin Kecil yang merujuk pada postur dua Lee Yujin yang mana satunya bertubuh tinggi sedang satunya mungil.

Cerita disampaikan dengan sudut pandang dua Lee Yujin; Yujin Besar dan Yujin Kecil. Tiap bab disampaikan dari sudut pandang Yujin Besar dan Yujin Kecil secara bergantian dimulai dari Yujin Besar yang menceritakan tahun keduanya di SMP. Doi sekelas lagi sama sohib kentalnya, Yoon Sora yang punya impian jadi novelis. Yujin Besar dan Sora bukan murid yang menonjol di kelas, prestasi mereka biasa aja, tapi keduanya menjalani masa SMP dengan baik hingga Yujin Kecil menjadi satu kelas dengan mereka. Yujin Besar mengingat siswi bernama Lee Yujin yang sekelas dengannya adalah temannya semasa TK, karenanya ia yang mengusulkan panggilan Yujin Besar dan Yujin Kecil pada wali kelas untuk membedakan dua Lee Yujin di kelas yang sama. Walau Yujin Besar beramah tamah, Yujin Kecil bersikeras jika doi nggak kenal ama Yujin Besar.

Setelah peristiwa dalam kelas, Yujin Kecil kesal pada sikap Yujin Besar yang menurutnya bersikap seenaknya sendiri padanya. Namun, keteguhan Yujin Besar yang mengaku mengenalinya bahkan dengan percaya diri menyematkan panggilan Yujin Kecil mulai mengganggu pikirannya. Yujin Kecil mulai penasaran dan mencari potongan puzzle dalam ingatan masa kecilnya.

Dua gadis, nama yang sama tapi kepribadian dan latar belakang yang berbeda. Yujin Besar dari keluarga, aku nyimpulinnya sih sederhana tapi mampu. Punya adik cowok yang menurutnya lebih disayang ibunya karena rajin belajar. Seperti yang aku tulis di atas, Yujin Besar murid dengan prestasi biasa. Tapi doi ini punya pembawaan yang supel, periang dan mudah bergaul. Yujin Kecil digambarkan bak putri dalam dunia nyata. Berasal dari keluarga kaya raya dan murid berprestasi di sekolah. Bahkan Yujin Kecil berhasil menduduki peringkat pertama untuk satu angkatan di sekolah, bukan hanya di kelas. Peringkat yang kemudian membawa imbas pada Yujin Besar hingga hidupnya berubah total.

Dua gadis dengan luka dan trauma yang sama, namun bertumbuh menjadi dua pribadi yang berbeda. Yujin Besar tumbuh menjadi gadis ceria, periang dan santai. Ia punya sahabat dan hidup normal layaknya remaja seumurannya. Keluarganya juga harmonis walau hidup sederhana. Ayahnya pekerja keras, ibunya ibu rumah tangga yang penuh perhatian. Yujin Kecil tumbuh menjadi gadis pendiam dan penyendiri yang selalu ketus pada sekitarnya hingga ia sering dijauhi bahkan dibenci. Di rumahnya pun ia baru diakui jika memiliki prestasi, tapi lebih sering diabaikan seolah ia tak ada. Hidupnya hanya tentang belajar dan belajar.

Jujur waktu tahu tentang luka dan trauma yang dimiliki Yujin Besar dan Yujin Kecil tuh marah banget. Kesel! Geram! Pada kasus seperti ini, selalu korban yang harus menanggung akibatnya. Terlebih diceritakan jika pelaku hanya dihukum penjara satu tahun saja. Korban membawa luka dan trauma seumur hidupnya, bahkan harus menghadapi 'kejamnya' penilaian orang lain tentang mereka. Asli marah banget, terlebih pas ibunya Geonwu yang terkenal bijak di depan kamera malah mengatakan kata-kata menyakitkan pada Yujin Besar padahal sesama perempuan. Tahu sih semua ibu pengen yang terbaik buat anaknya, tapi ya nggak harus sampai ngeluarin kata-kata yang menyayat hati juga sih.

Buku ini juga menggambarkan bagaimana usaha Yujin Besar dan Yujin Kecil menjalani bahkan menikmati masa remaja mereka di tengah usaha menyembuhkan luka dan traumanya. Walau Yujin Besar terlihat lebih santai, luka dan trauma itu masih membayangi dirinya. Yujin Kecil bahkan sampai menjadikan rokok sebagai pelarian. Ini gambaran kenakalan anak SMP yang umum terjadu bahkan di sekitar kita. Bahkan kita sendiri, bisa jadi dulu juga melakukan kenakalan yang sama. Jadi nostalgia juga.

Takdir yang mempertemukan untuk saling menguatkan dan menyembuhkan. Yujin Besar, Sora, dan Yujin Kecil membuat langkah besar bersama. Ketiganya memiliki masalah masing-masing dan memilih sejenak untuk 'lari' dari rutinitas. Sukanya tuh digambarin juga kecerobohan khas anak remaja yaitu uang saku ilang. Untung masih ada sisa koin untuk beli mi gelas buat pengganjal lapar. Suka banget sama keputusan trio Yujin, Sora, Yujin karena berani mewujudkan apa yang jadi  keinginan mereka. Dulu aku juga pernah pernah punya keinginan gitu, tapi hanya jadi sebatas keinginan karena aku terlalu penakut.

Suka banget sama karakter Sora. Bener-bener teman yang bisa diandalkan. Walau keliatannya serampangan, Sora bisa menjaga Yujin Besar dengan baik dalam segala situasi. Suka pas adegan ke taman hiburan, Sora tampil cantik demi menjaga citra Yujin Besar, sahabatnya. Lucunya Yujin Besar sempet mikir jelek ke Sora. Yujin Besar kayaknya emang lebih sering overthinking deh ke orang. Padahal orang di sekitarnya tuh pada baik. Kalau Yujin Kecil kasihan banget. Walau kaya raya, ia selalu tertekan dan menderita.

Cara orang tua melindungi anaknya, tapi nggak semua cara berujung membawa dampak baik bagi anaknya. Ibaratnya gini, kalau baca part Yujin Besar tuh terasa hangat, tapi giliran part Yujin Kecil, bawaannya gelap mulu, sedih mulu, padahal hidupnya bergelimang harta.

Waktu tema yang diangkat tuh berat yaitu kekerasan seksual di sekolah, tapi karena disampaikan dari sudut pandang korban yang masih SMP itu bacanya jadi terasa agak santai. Terlebih kalau part Yujin Besar. Emosi iya, sedih dan nyesek juga iya, tapi kepolosan dua Yujin dalam membagi pikiran dan apa yang mereka rasa itu jadi semacam healing tersendiri buatku. Jadi turut sadar juga bahwa kejadian yang dulu aku alami bukan salahku. Jadi bisa mulai berhenti menyalahkan diri, mulai berhenti merasa jijik pada diri sendiri. Tindakan nekat anak-anak kadang memang diperlukan agar orang tua lebih membuka mata dan pikiran. Yang terpenting adalah komunikasi.

Makasih Haru untuk sharing ilmunya dan novel gratisnya. Semoga makin jaya. Buku ini rekomen banget buat dibaca. Oya, bagian yang bikin terkaget-kaget ternyata cerita ini ditulis sama Lee Geum-yi berdasarkan kisah nyata. Nyeseknya kisah nyata itu adalah kisah anak gadisnya sendiri. Potek hatinya rasanya. Oya, yang mau beli novelnya, bisa klik link ini ya.

"Meski begitu, takdir mengirim Yujin Besar untuk memberi tahu. Alangkah baiknya kalau aku ingat. Terkadang, cara menyembuhkan luka yang terbaik adalah dengan mengingatnya, walau itu sulit dan menyakitkan. Seperti kata Kak Heejung, Ibu dan Ayah seharusnya berada di sampingku dan memperhatikan, apakah aku menganggapnya sebagai hiasan atau noda."

You Might Also Like

0 komentar

Total Pageviews