Belajar Tentang Kehidupan dari Jamur Liar

05:42

 Filosofi jamur

(Sumber foto: Pixabay)

Hari ini hari pertama di bulan Juni, aku bertekad untuk bangkit dari rasa malas dan kembali rutin jalan pagi. Seperti biasa, kalau jalan ini mata pasti jelalatan ngamatin sekitar buat nyari model buat difoto. Pagi tadi ketemu banyak model sebenernya, tapi karena nggak pakek sepatu, aku nggak berani blasakan ke area berumput. Takut ada ular.

Dalam perjalanan pulang, setelah videoin bulan purnama di ufuk barat, ketemu jamur mungil tumbuh di antara rumput. Langsung jongkok buat ambil foto, tapi entah nggak bisa fokus jadi hasilnya nggak maksikal tapi tetep nekat unggah ke Shutterstock. Lolos, tapi masuk kategori 'Eligible for data licensing'. Nggak papa. Sadar diri kalau fotonya burem. Hehehe.

Setelah foto-foto, ambil video. Trus tadi kepikiran, jamur pasti punya filosofi dong. Akhirnya nanya Mbah Google dan baca beberapa artikel. Hingga aku menyimpulkan empat poin yang bisa aku pelajari dari fase hidup jamur liar. Aku nyebutnya Filosofi Jamur. Kira-kira begini kesimpulannya, Dari jamur aku belajar:


1. Beradaptasi walau tumbuh di tempat tak terduga. Fleksibel saat menghadapi segala perubahan. Jamur punya sifat heterotrof yang membuatnya mudah menyesuaikan diri pada bermacam jenis media untuk bertahan hidup.

2. Tetap bertumbuh, berkembang dan berkarya walau berada dalam masa sulit dan lingkungan yang tak mendukung. Ruang hidup jamur tuh seringnya nyempil, gelap, lembap, bahkan kadang tumbuh di sisa pembusukan yang mana sulit bagi tumbuhan lain untuk hidup. Tapi, jamur bisa melalui segala prosesnya dan tumbuh dengan baik dalam kondisi sulit dan lingkungan yang nggak mendukung.

3. Kesabaran dan proses yang tidak diketahui orang menjadi pondasi kuat untuk membuahkan keberhasilan. Seringnya kita tahu, ujug-ujug jamur udah tumbuh. Padahal sebelum tumbuh, muncul ke permukaan dengan wujudnya yang unik dan cantik, ada proses yang sangat panjang yang kita nggak tahu, salah satunya proses pembentukan akar di dalam tanah yang membuatnya tumbuh dengan kuat.

4. Berusaha memberi dampak positif dan bermanfaat bagi sekitar. Walau nggak semua jamur bisa dimakan, keberadaannya memiliki peran penting bagi lingkungan sekitar. Jamur bisa jadi dekomposer yang mengurai bahan organik yang telah mati menjadi nutrisi penting bagi organisme lain dan tanah.

Gusti Allah menciptakan makhluk mungil yang tumbuh di antara rumput ini dengan membawa misi dan peran yang penting. Apa lagi kita? Manusia. Setelah merenung jadi mikir, "Kenapa aku harus berkecil hati? Ada alasan kenapa aku hidup. Ada peran dan fungsi serta misi yang diberikan Tuhan dalam hidup. Seperti jamur, aku pun pasti memiliki peran dan berguna."

Kesimpulan itu aku ambil dari baca artikel di Google. Oh iya, ini videonya. Kata Mbah Google nama jamurnya Common conecap atau jamur kepala kerucut (Conocybe tenera). Foto aku ambil dari Pixabay, sebagai pemanis artikel. Mohon maaf jika ada salah kata. Gomawo matur tengkyu.

You Might Also Like

0 komentar

Total Pageviews