Alhamdulillah Tetap Bisa Berkunjung ke Pantai Parangtritis

05:28

Pantai Cemara Sewu dan Parangtritis



Rencana di hari Jumat mau ke Parangtritis, tapi malemnya gempa. Jadi galau dan malam itu diputuskan buat cancel aja. Aku manut sama yang buat jadwal perjalanan, budal ayok, nggak budal ya nggak papa. Karena katanya cancel, nyantai dong. Bangun seenaknya, di kamar mandi lama-lama. Pas keluar tetiba dikasih tahu, "Kita jadi ke Parangtritis pagi ini." Kobol-kobol lah aku. Prepare sat-set, langsung berangkat. Untung udah mandi. Hehehe.

Kenapa sempet dibatalin? Karena gempanya lumayan gede pas malem, jadi kami parno tsunami. Bismillah berangkat aja, insyaallah aman.

Tahun 2018 berburu suasana pagi, berangkat habis Subuh, jalan kaki ke ujung buat dapetin view yang ada kabut-kabutnya itu lho. Tahun ini karena sempet dibatalin, jadi berangkat agak siang. Sistem masuknya udah beda banget dari dulu dan karena pas tahun 2018 nggak foto di hutan cemara, tahun ini minta bisa foto di hutan cemara. Hehehe.



Karena pengen foto di tengah jalan raya yang kanan-kirinya hutan cemara, jadi kami mampir ke Pantai Cemara Sewu. Ada tulisan parkir, jadi kami berhenti di sana. Ternyata tempat kami mandek tuh udah terbengkalai, nggak ada yang jaga, udah nggak dirawat dan kayaknya emang ditinggalkan. Tapi ada akses ke pantainya, jadi kami jalan ke pantai. Akses jalannya juga aman, jadi gas ke pantai aja.

Suasana di hutan cemaranya tuh adem, ayem, hening. Pas masuk ke area pantai, berubah jadi hangat bahkan kemudian panas. Berasa ada di dua dunia yang berbeda. Hehehe. Duduk bentaran di tepi pantai, bikin video, ketemu bunga cantik warna ungu, lalu ujian mulai dateng lagi. Badanku tetiba terasa mual dan kepala sakit lagi. Badan, kenapa tak kau izinkan aku bersenang-senang? Hiks!



Segera cari suasana yang lebih adem, aku balik ke hutan cemara, deket mobil parkir, cari tempat duduk sambil mikir harus gimana dan nanya ke badan maunya apa. Mikir positif, mungkin aku masuk angin, akhirnya buru-buru minum Tolak Angin, membalur perut dengan minyak kayu putih, duduk atur napas menenangkan diri sambil menunggu yang lain balik ke mobil buat lanjut perjalanan.

Badan udah agak baikan, lanjut perjalanan ke Parangtritis. Rasanya ke Jogja tuh belum lengkap kalau belum ke Parangtritis. Kami parkir di tempat langganan. Kenapa langganan? Ibunya baik, parkirnya luas dan ada atap pelindung. Kamar mandinya banyak dan bersih, tarif normal. Setelah dikenalkan di tahun 2018, jadi balik parkir di sana pas berkunjung di tahun 2026. Untung masih inget dan nggak salah masuk. Hehehe. Kondisi gimana? Masih agak lemes, bestie. Tapi trip harus tetep berjalan dan menikmati suasana.

Karena berangkat agak siang, suasana udah agak panas. Kami sewa tikar dan payung buat duduk berlindung dari panas. Aku langsung pesen jahe anget untuk meredakan keluhan yang mulai mereda. Yang lain pada main air, main pasir, aku duduk aja di bawah payung sambil menikmati jahe anget dan cilok. Indah sekali pemandangan di Parangtritis. Pengunjung lumayan rame juga, alhamdulillah. Kami duduk lumayan lama, ketika hari semakin panas, kami memutuskan balik.



Ngaso bentar di tempat parkir dan salah satu dari kami ngobrol dengan pemilik parkir. Katanya, omset menurun drastis sejak sering gempa. Bahkan beberapa waktu lalu, pasca gempa, air sempet pasang sampai masuk ke area warga. Nyesek dengernya, tapi kuasa alam memang tidak bisa dilawan manusia. Salah satu dari kami memberi saran seandainya terjadi hal yang sama, sebaiknya segera naik motor ke area yang lebih tinggi; ke area perbukitan yang lokasinya lumayan deket dari Parangtritis. Setelah ngaso dan membersihkan diri dari pasir, kami pamit untuk pulang.

Karena kondisiku belum kunjung membaik, menu makan siang kompakan nyari sate kambing. Pada khawatir tensiku turun karena lagi mens, full kegiatan. Aku sih manut aja. Hehehe. Langsung menuju Sate Klathak Pak Pong. Tempat ini tuh termasuk kuliner legend dan udah banyak cabangnya. Kalau nggak salah ingat, kami mampir ke yang warung pertama. Kalau nggak salah ingat ini ya. Karena di bangunan utama nggak bisa nampung ramainya pembeli, jadi dibangun pendopo di seberang jalan. Kami duduk di pendopo, area terbuka biar nggak panas. Walau hari Jumat dan makan siang pas jam salat Jumat, pelayanan tetep sat set, cepet, karena pegawai perempuannya pun cekatan.

Satenya enaaak. Nggak bau lebus sama sekali. Trus ukuran potongan dagingnya besar-besar. Bumbunya juga beda dari di sini, enak juga. Trus bisa rasain tongseng kambing untuk pertama kali, ternyata enak. Hehehe. Minumnya aku pesan jeruk anget kan, disajikannya tuh unik. Gulanya pakek gula batu, the real gula batu kayak dulu pas waktu kecil aku sering minta dagangan almarhumah Nenek dari Bapak, bukan gula pasir dipadatkan. Beneran enaaak. Masyaallah. Surga dunia. Pantas disebut legend, karena seenak itu dan tetep mempertahankan rasa tradisional.

Selesai makan siang langsung balik ke rumah singgah karena sorenya kami pengen main ke Titik Nol dan ke Malioboro. Mau nyore di sana trus lanjut ketemuan ama sodara di Nanamia Pizzeria malam harinya. Oiya, entah aku nulis apa belum ya, kami juga sempet mampir ke Pasar Tradisional Beringharjo buat cari setelan kebaya. Seru banget keliling di pasar tradisional lagi kayak tahun 2013.



Video perjalanan ke Pantai Cemara Sewu bisa dilihat di sini ya. Cakep banget aku jamin. Hehehe. Kami melewati jalan apa itu yang viral, duh kok lupa ya. Yang ada di pertemuan dua arus: air laut dan air sungai. Maaf lupa namanya, tonton aja di videonya ya. Trus, kalau ini video di pantai Cemara Sewu dan Parangtritis. Gomawo matur tengkyu.



You Might Also Like

0 komentar

Total Pageviews