Review Novel Sesat - Naomi Midori
05:11Sesat - Naomi Midori
Jika Sang Agung berkehendak, apa pun yang kau inginkan akan dikabulkan.
- Judul: Sesat
- Penulis: Naomi Midori
- Penerbit: Penerbit Haru
- Tahun terbit: Cetakan pertama, April 2026
- Halaman: 250 halaman ; 19 cm
- ISBN: 978-623-5467-44-3
Selamat datang di Pulau X.
Pulau tempat mukjizat terjadi setiap hari. Tanah tandus bisa berbuah. Penyakit bisa sembuh. Dan, semua orang percaya pada satu hal: Pamasa adalah wakil Sang Agung di dunia.
Ale tumbuh memuja Pamasa sama seperti semua orang di Pulau X.
Meski ada banyak hal yang tidak pernah dibicarakan.
Penyucian yang selalu berakhir dengan tubuh tak bernyawa. Anak-anak yang dipilih mengabdi, lalu menghilang tanpa pernah kembali. Rahasia-rahasia yang terasa suram dan gelap di balik sucinya dinding balai.
Ketika mulai mempertanyakan semuanya, keyakinan Ale tak bisa lagi sama.
Di Pulau X, iman bukan sesuatu yang dimiliki; iman adalah sesuatu yang diawasi.
Ritual setiap malam sebelum tidur adalah dua jam sebelum tidur menghentikan aktivitas dengan ponsel, beralih ke buku untuk membaca. Tapi, sepertinya pilihanku semalam cukup ekstrim, tapi bikin nagih hingga telat tidur 1,5 jam dari jadwal seharusnya. Nyesel? Nggak. Daripada nggak bisa tidur karena penasaran, mending lanjut baca walau berujung mimpi nyasar ke Balai di Pulau X (T___T)
Waktu tahu Kak Naomi Midori bakalan lairan anak keduanya, udah prepare nabung buat beli karena setelah baca Pasien tuh terkesan banget sama karyanya. Ndilalah kersane Gusti Allah, Penerbit Haru membuka kesempatan untuk jadi pembaca pertama buku kedua karya Kak Naomi Midori yang berjudul Sesat. Nggak membuang kesempatan, langsung daftar dong, alhamdulillah bisa gabung di grup dan diberi tugas bikin konten novel Pasien. Pikirku, aman, karena aku udah punya novel Pasien dan udah baca. Tapiii ujian datang, pas mau bikin foto buat tugas konten, itu novel Pasien entah main ke mana. Aku cari di lemari yang khusus buat buku-buku terbitan Penerbit Haru nggak ketemu. Padahal seingatku nggak ada yang minjem. Panik? Jelas! Akhirnya karena nggak ketemu, terpaksa aku pakek foto lawas yang ada di galeri (T___T)
Alhamdulilah ada jodoh dan rezeki, lolos buat jadi salah satu pembaca pertama novel Sesat karya Kak Naomi Midori. Rezeki durian runtuh beneran. Uniknya, setelah lolos, Pasien balik di tempatnya dong. Sebelumnya kamu kemana, Nak? Panik emak asuhmu ini mencarimu. Heuheuheu.
Tiap video tentang novel Sesat lewat, dibuat makin penasaran. Kenapa ada bagian yang sengaja ditutup pada cover bagian depan? Ada apa sebenernya di balik bagian yang tertutup itu? Setelah novel Sesat sampai di pangkuan dan unboxing, tahu dah kenapa bagian itu ditutup. Beneran bikin sawan (T___T) Nih, monggo yang mau nonton video unboxing novel Sesat.
Cover-nya tuh cantik. Warna ungu, ada hiasan bunga wisteria, tapi ada kesan gelap juga. Suka. Asal jangan dibuka bagian yang ditutup aja. Sepanjang baca aja aku tutup karena takut sawan. Bagian dalam juga ada gambar peta Pulau X dan beberapa ilustrasi--yang semakin ke bagian akhir semakin bikin syok. Dari segi tampilan, cantik luar dalem deh ini novel Sesat. Cantik luar dalem tapi bikin yang baca tersesat. Hiks!
Buku ini mengisahkan tentang Ale, gadis cacat yang tinggal di Pulau X. Layaknya penduduk lainnya, Ale juga mengagumi serta memuja Pamasa, pemuka agama yang dipercaya sebagai perwujudan wakil Sang Agung di dunia. Setiap hari, Ale menjalani ritual wajib bersama warga lainnya. Suatu hari, ibunya dipatuk ular berbisa. Ale berlari ke Balai, tempat Pamasa tinggal untuk meminta bantuan. Pamasa mengutus tangan kanannya, Rai, untuk membantu Ale. Saat itulah gadis itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keajaiban yang dikirim Pamasa berhasil menyelamatkan nyawa ibunya. Ale berjanji akan semakin taat bahkan memiliki impian untuk bisa masuk ke dalam Balai dan mengabdi di sana.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ale mendapat surat undangan masuk Balai yang dikirim langsung oleh Pamasa melalui dua utusannya. Kedul, ibu angkat Ale tak ingin anaknya pergi, namun ia tak punya kuasa untuk melawan perintah Pamasa. Kedul hanya bisa menangis frustasi saat melepas kepergian Ale. Kenapa Kedul malah nangis kejer padahal anaknya menjadi umat terpilih yang bakalan mengabdi di Balai? Bahkan, karena Ale terpilih ia bakal hidup enak tanpa kelaparan walau statusnya adalah budak?
Hubungan Ale dan Kedul tak pernah akur. Kedul dicap sebagai umat yang tak taat oleh Ale, karenanya keduanya sering cek-cok. Saat Kedul merasa frustasi, Ale justru merasa senang akhirnya bisa masuk Balai dan berjanji akan mengabdikan hidupnya dengan taat. Namun, setelah memasuki gerbang Balai, Ale mulai ragu pada apa yang ia yakini selama ini. Terlebih setelah ia melihat tetangganya yang bernama Maya yang lebih dulu memasuki Balai menatapnya dalam diam dengan tatapan kosong.
Di awal udah dikasih warning sama author, jadi mau lanjut baca atau stop pilihan ada di tangan pembaca. Berikutnya disambut dengan gambar peta Pulau X dan peta Balai. Pulau X berada di tengah-tengah lautan dan memiliki beberapa wilayah bagian yang disebut dengan Pos. Area paling mewah bernama Pos 1, sedang Ale tinggal di area Pos 3. Bukan Area termiskin, tapi bukan yang terbaik juga. Berikutnya ada peta Balai yang merupakan tempat ibadah agama X sekaligus rumah tinggal Pamasa, orang nomor satu yang dipercaya sebagai wakil sang Agung di dunia. Lalu, disajikan potongan ayat dari Kitab Sasar, yang merupakan kitab suci agama X dan prolog yang duaaarrr banget!!! Baru deh informasi buku. Unik sekali ya susunannya.
Buku ini disampaikan dari dua sudut pandang yaitu sudut pandang Ale dan sudut pandang Dhatya. Sama kayak Pasien, jadinya asik karena bisa mengenal lebih dalam karakter Ale dan Dhatya itu kayak mana. Menulis nama Ale di sini setelah membaca novelnya hingga selesai tuh bikin nyesek. Dia hanya gadis muda, umat yang taat, yang memercayai ajaran agamanya dan benar-benar ingin mengabdi untuk agamanya, tapi... kenyataan di balik tembok Balai membuat Ale meragukan imannya sendiri. Dan, dia hanya gadis yang ingin kembali pulang ke pelukan ibunya, tapi kenapa...?!! (T___T)
Betapa mengerikannya manusia jika menjadikan agama sebagai senjata untuk mengendalikan manusia lainnya. Di kehidupan nyata banyak sekali contoh, salah satunya adalah kasus yang belakangan viral. Bersembunyi di balik jubah agama, menggunakan kekuasaan sebagai pemuka agama untuk mendapatkan semua keinginan dan memenuhi nafsunya. Miris, muak, sekaligus nyesek membayangkan posisi para korban.
Mungkin agama X memang udah nggak beres sejak awal, tapi makin nggak beres sejak Dhatya terpilih sebagai Pamasa, pemuka agama tertinggi serta orang nomor satu di Pulau X yang mana setiap ucapannya dipercaya dan dipatuhi, bahkan setiap tindakannya dibenarkan. Mengabdi dan taat berarti mematikan seluruh indra; melihat tapi tidak melihat, mendengar tapi tidak mendengar, dan mematikan segala rasa termasuk rasa iba terhadap sesama. Intinya gambaran agama X di novel Sesat ini relate banget kalau disandingkan sama banyaknya bisnis agama di kehidupan nyata, tentu saja agama X ini versi brutalnya.
Kak Naomi Midori selalu sukses membawa 'sesuatu' untuk dijadikan 'trauma' bagi pembaca. Kali ini korbannya apel dan jeruk. Buah berwarna cerah dengan rasa yang nikmat, tapi di pulau X justru jadi buah yang haram dimakan umat. Tapi, buatku pribadi ini masih bisa aku toleransi. Yang bikin mual hingga pagi, bahkan setelah terlelap semalaman adalah pertemuan tikus dan kucing yang kemudian ketahuan oleh Rai, tangan kanan Pamasa yang sekaligus menjadi mesin pembunuh Balai. Nulis ini aja mual karena keinget adegannya yang dituliskan dengan detail. Ya, Allah. Astaghfirullahalazim. Auto huwek, plis! (T___T)
Bagaimana monster terlahir akibat orang-orang dewasa yang nggak waras. Asli dibuat istighfar sama orang-orang dewasa yang menciptakan para monster yang akhirnya berhasil menguasai pulau X dan mengendalikan seluruh penduduknya. Ngerinya manipulasi orang dewasa hingga berhasil mencuci otak anak-anak hingga tanpa ragu memercayainya sebagai cinta. Nggak habis pikir sumpah! Oiya, di pulau X tuh kasta masih berlaku. Orang dengan kasta tinggi pada tinggal di Pos 1. Kandidat Pamasa juga berasal dari sana. Kalau kastanya rendah atau budak, ya kebanyakan tinggal di area tandus dan rata-rata nggak bisa baca tulis. Kaum budak hanya ngerti kerja, kerja, dan kerja tanpa lupa ibadah dan beramal sesuai ajaran agama X yang disampaikan Pamasa.
Sedikit paham kenapa Dhatya ingin jadi Pamasa. Sepertinya karena cinta tulus yang ia miliki pada gadis budak di rumahnya. Jujur sempet mikir jelek tentang Dhatya, pedopil di balik jubah agama, tapi salah. Dia orang yang setia dan ingin memperjuangkan cintanya. Tapi tetep bae dia jahat karena mau jadi boneka dari monster sebenarnya yang berdiri di belakangnya dan mengendalikan pulau X beserta warganya lewat gelar Pamasa. Terlahir dalam keluarga kaya adalah privilege untuk mewujudkan semua kegilaan. Cinta pun bisa berubah wujud jadi kegilaan.
Novel Sesat lebih brutal dari novel Pasien. Suer! Siapin mental aja kalau mau baca. Karena kita bakal disajiin ngerinya sistem yang dibuat oleh manusia untuk mengendalikan manusia lainnya. Nulis ulasan ini aja aku masih mual nggak karuan (T___T)
Dah kelar baca malah dapet tugas ngisi kuis. Aku ngerjain kuisnya juga dan hasilnya... jawabanku kebanyakan B. Jadi, aku cocok tinggal di pulau X? Aku adalah perpanjangan tangan Pamasa? Aku adalah air mata dan hati Pamasa di tengah masyarakat? OH TIDAAAK!!!
Yang mau ikutan masuk ke dalam Balai bersama Ale, segera adopsi aja novel Sesat. Bisa adopsi via link ini. Bisa juga via link ini. Atau bisa juga via Shopee Video ini untuk dapat diskon dan gratis ongkir.
Sebenernya gambaran Balai ini, yang aku tangkep dengan imajinasiku cakep lho! Kayak kuil di Cina atau Jepang gitu, klasik. Cuman ya dalemnya emang nggak seindah penampakan fisiknya. Hiks! Trus, itu, tanah tandus bisa auto subur setelah dikasih ramuan apa sama orang Balai? Pupuk yang dibuat dari mayat?? Satu lagi, jati diri sosok Rai, gila! Nggak nyangka dia sebenernya siapa. Tapi emang satu keluarga sakit semua. Menurutku, pertarungan sebenernya dimenangkan oleh Kedul yang kukuh pendirian, melawan sistem dengan caranya sendiri dan membunuh apa yang ia rasakan atas nama kemanusiaan. Ale, gadis yang baik, you deserve better (T___T)
Kehidupan di dalam Balai mengingatkanku pada Pink Soldier di Squid Game. Rest in love Nomor 99.
Tempurung kura-kura, 19 Mei 2026.





0 komentar